

Kesuksesan adalah kemampuan untuk berpindah dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya dengan tetap antusias Selengkapnya...
Motivasi Diri Gapai Ridho Illahi


Itulah beberapa tips agar kita bisa terjauh dari penyakit malas. Akan tetapi yang paling utama jangan sampai kita lupa berdo’a agar Alloh senantiasa memberi kita semangat dan agar menjauhkan diri kita dari penyakit malas tersebut. Wallohu A’lam bishowab.
Semoga tips di atas dapat bermanfaat bagi penulis ataupun bagi pembaca. Selamat tinggal Malas…
Sungguh, saat itu, tiada lagi yg bisa dipikirkan, semua gelap. Bingung dan sedih. Alhamdulillah, bersama istri kami mencoba tegar, tabah dan sabar, 3 bulan kemudian istri saya hamil dan anak ke 2 bisa lahir dengan selamat, dan tidak terkena toksoplasma dan sekarang sudah 5 tahun usianya lalu lahir adiknya lagi, sekarang sudah berusia 4,5 bulan.
Masih ada salah pengertian antara beda makna percaya diri dan sombong. Apa yang menjadi perbedaan antara percaya diri dan sombong? Apakah orang sombong itu menunjukan kepercayaan diri yang tinggi atau justru lemah? Apakah orang yang memiliki cita-cita melebihi cita-cita kita bisa disebut sombong? Pertanyaan ini perlu dijawab dengan tuntas agar kita terhindar dari sikap sombong, tetapi bisa meraih manfaat percaya diri.
Dari Iyadl Ibnu Himar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan diri, sehingga tidak ada seorang pun menganiaya orang lain dan tidak ada yang bersikap sombong terhadap orang lain.” (HR.Riwayat Muslim.)
Dari ayat dan hadits di atas, ada satu kata yang mengikuti kata sombong, yaitu terhadap… Artinya kata sombong bersifat komparatif, yaitu membandingkan dengan orang (makhluq) lainnya. Artinya kesombongan bermakna dalam hal merasa lebih tinggi, lebih baik, atau lebih lainnya dengan orang atau makhluq lainnya. Dia merasa lebih hebat daripada orang lain. Bahkan banyak yang merasa lebih hebat dibanding Nabi, sehingga tidak mendengar apa yang dikatakan oleh para Nabi.
Jika sombong lebih kepada membandingkan dengan orang lain, maka percaya diri justru sebaliknya. Percaya diri lebih berfokus pada kesamaan antara manusia. Orang akan percaya diri jika dia merasa sama dengan orang lain. Merasa memiliki perbedaan, justru akan menimbulkan sikap negatif. Merasa lebih rendah disebut rendah diri. Sementara orang yang merasa lebih baik disebut sombong.
Rendah diri ada yang positif dan ada yang negatif. Rendah diri dihadapan Allah adalah rendah diri yang positif, sementara rendah diri di hadapan manusia adalah perbuatan tercela. Tidak ada makhluq yang lebih mulia di sisi Allah, kecuali karena ketaqwaanya. Artinya manusia itu sama, sehingga yang menentukan nanti di akhirat hanyalah ketaqwaanya. Bukan pangkat, pendidikan, jabatan, dan harta kekayaan. Kita tidak perlu merasa rendah diri dihadapan siapa pun, kecuali di hadapan Allah.
Justru, jika kita yakin bahwa kita sama dengan orang lain, akan muncul suatu sikap percaya diri. Jika orang lain bisa melakukan hal yang luar biasa, maka Anda pun bisa melakukannya. Teknologi NLP sudah banyak menunjukan bahwa kita bisa melakukan apa pun yang kita ingin lakukan. Apa lagi jika sudah ada orang lain yang pernah melakukannya. Yang seringkali menghambat kita untuk melakukan hal yang sama dengan orang lain, karena justru pikiran kita sendiri. Atau apa yang kita lakukan, belum sama dengan orang lain.
Intinya, kepercayaan diri menganut prinsip kesamaan antara kita dengan orang lain. Allah menciptakan manusia sama dengan segala potensinya. Jika kita seolah tidak bisa melakukan apa yang dilakukan oleh orang lain, sesungguhnya karena kita belum tahu caranya secara akurat. Mungkin kita baru melakukannya sebagian. Namun disayangkan, kita sering terburu-buru mengubur potensi diri kita sendiri.
Saat ada orang lain yang memiliki cita-cita tinggi. Bahkan jauh lebih tinggi dibanding keyakinan kita. Anda tidak perlu menyebutnya sombong. Anda sendiri bisa memiliki cita-cita dan kemampuan untuk meraihnya seperti orang lain. Yang Anda perlukan ialah bagaimana memompa pikiran Anda agar memiliki keyakinan yang sama dengan orang lain. Jadi, sebelum mengatakan orang lain sombong, mungkin kitanya yang rendah diri.
Diambil dari www.motivasi-islami.com


Dalam sebuah perlombaan lari anak-anak, Mereka semua berjajar,begitu penuh harapan; masing-masing ingin memenangkan perlombaan atau menjadi yang pertama, atau setidaknya merebut tempat kedua. Orangtua mereka menonton dari pinggir, masing-masing menyemangati anak mereka. Masing-masing anakpun berharap bisa menunjukkan kepada keluarganya bahwa dialah yang akan menjadi sang juara.
Pluit ditiup dan mereka pun melesat, seperti kereta perang terbakar. Menang dan menjadi pahlawan di tempat itu adalah keinginan setiap anak laki-laki.
Salah seorang anak, yang ayahnya berada dalam kerumunan, berlari memimpin dan berpikir,”Ayahku akan sangat bangga.
”
Tetapi pada saat melesat melintasi lapangan dan menyeberangi turunan dangkal, anak kecil yang mengira akan menang itu salah melangkah dan terpeleset. Saat ia berusaha keras menjaga keseimbangan, lengannya bergerak kesana kemari. Dan ditengah tawa orang banyak ia terjerembab.
Saat ia jatuh,harapannya pun ikut jatuh-ia tidak bisa memenangkan perlombaan itu sekarang.Merasa terhina, ia hanya berharap entah bagaimana bisa menghilang. Tetapi saat ia jatuh, ayahnya berdiri dan menunjukkan wajah khawatirnya, yang bagi anak itu berkata dengan jelas,”Bangun dan menangkan perlombaan!”
Anak itupun bangkit dengan cepat-tidak ada yang salah,kecuali sedikit tertinggal-dan ia berlari dengan segenap tekat dan kemampuannya untuk menebus jatuhnya tadi. Karena ia begitu gugup untuk mendapatkan tempatnya semula, untuk menyusul dan menang,pikirannya bergerak lebih cepat daripada kakinya.Ia terpeleset dan kembali jatuh.
Ia berharap saat jatuh tadi ia berhenti, dengan begitu ia hanya satu kali dipermalukan.”Sebagai pelari, sekarang aku tidak punya harapan.Seharusnya aku tidak mencoba berlomba.”Tetapi, matanya menembus kerumunan orang yang sedang tertawa, dan ia mencari serta menemukan wajah ayahnya yang tatapan tajamnnya kembali berkata,”bangun dan menangkan perlombaan!”
Jadi, ia pun melompat dan kembali mencoba, sepuluh meter di belakan peserta terakhir perlombaan.”Jika ingin menyusul sepuluh meter itu,”pikirnya, “aku harus berlari dengan benar-benar kencang!”.Dengan mengerahkan semua kemampuannya, ia pun mendapatkan kembali delapan meter, kemudian sepuluh meter...Tetapi saat berusaha keras menyusul pelari terdepan,ia terpeleset dan kembali terjatuh.Kalah!Ia berbaring disana tanpa suara. Air matanya menetes.
“Tak ada gunanya lagi berlari!Tiga kali gagal dan aku keluar!Mengapa harus mencoba?Aku sudah kalah,jadi apa gunanya?”pikirnya.”Aku akan hidup dengan rasa malu ini”Tetapi kemudian ia memikirkan ayahnya, yang akan segera ia hadapi.
“Bangun,”sebuah gema terdengar pelan,”kamu sama sekali belum kalah,karena satu-satunya hal yang harus kamu lakukan untuk menang adalah bangkit setiap kali jatuh.Bangun! Gema itu mendesaknya, “Bangun dan ambil tempatmu!Kamu tidak berada disini untuk gagal!Bangun dan menangkan perlombaan itu!”
Jadi anak itupun bangkit untuk berlari sekali lagi, menolak untuk kalah, dan memutuskan bahwa entah menang atau kalah, setidaknya ia tidak menyerah. Jadi, jatuh dibelakang peserta lain sekarang, paling jauh dibanding sebelumnya, ia tetap mengerahkan semua kemampuannya dan berlari seolah masih bisa menang. Telah tiga kali ia terjatuh, dan telah tiga kali pula ia bangkit. Meskipun tertinggal terlalu jauh untuk berharap akan menang. Ia tetap berlari hingga akhir. Orang-orang menyoraki anak lain yang melintasi garis dan memenangkan tempat pertama, dengan kepala tegak dan bangga dan gembira-tidak jatuh, tidak dipermalukan.
Tetapi, ketika anak muda yang jatuh itu melintasi garis, di tempat terakhir, kerumunan orang menyorakinya dengan lebih hebat karena ia menyelesaikan perlombaan. Dan meskipun ia tiba terakhir dengan kepala tertunduk, tidak bangga, jika mendengarkan kerumunan orang itu, Anda akan mengira ia telah memenangkan perlombaan.
Dan kepada ayahnya, dengan sedih ia berkata,”Aku tidak melakukannya dengan baik.”
“Bagi ayah kamu menang,”kata ayahnya.”Kamu bangkit setiap kali jatuh.”
Semua dalam kehidupan ini seperti perlombaan itu, penuh suka duka dan naik turun. Dan satu-satunya hal yang harus anda lakukan agar menang adalah bangkit setiap kali terjatuh. Dan ketika depresi serta keputusasaan berteriak lantang dihadapan kita, suara lain dalam diri kita berkata,”Bangun dan menangkan perlombaan!”
(Cerita disadur dari buku 'RAHASIA MENJADI ORANG SUKSES',-Ruben Gonzales)
Diambil dari http://www.tulisanmotivasi.blogspot.com/